Pesan dari Kyai Wahab untuk muktamar NU ke-35

Muktamar NU ke-35

BLAKASUTA NU

Oleh: Gus Aam Wahib Wahab

“Kiai Wahab, NU Mau Dibawa ke Mana?”

Di sebuah pendopo tua, malam begitu hening. Seorang Nahdliyin duduk dengan Khitthah 1926 di tangannya. Dari kejauhan, terdengar kentongan bersahut.

Tok… tok… tok…

Satu abad sudah Nahdlatul Ulama berdiri. Usia yang panjang untuk sebuah jam’iyah. Namun di tengah perjalanan abad kedua ini, muncul sebuah pertanyaan yang lebih besar dari sekadar siapa yang akan memimpin: NU mau dibawa ke mana?

Pertanyaan itu bukan tentang kursi. Memimpin adalah amanah. Pertanyaan yang lebih hakiki adalah: setelah amanah itu diemban, apa yang akan dilakukan dari kursi itu?

Di tengah hiruk pikuk jelang Muktamar, ketika banyak yang sibuk menghitung nama dan dukungan, ada suara lain yang terdengar lirih dari balik gunungan sejarah.

“Kembalikan NU…”

Suara itu bukan suara orang yang sedang memburu jabatan. Itu adalah suara sejarah. Suara para pendiri.

“Kembalikan NU kepada cita-cita para pendiri.”

Kembali bukan berarti mundur ke masa lalu. Kembali berarti membawa ruh perjuangan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah — ruh keikhlasan, keberanian membela kebenaran, dan keberpihakan pada umat — untuk menjawab tantangan masa depan.

Ruh itu mengingatkan kita pada jati diri:

NU harus kembali menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Menjadi kekuatan moral ketika rakyat diperlakukan tidak adil.

NU harus kembali menjadi pelayan umat, bukan pemburu jabatan. Khidmat harus di atas segalanya.

NU harus menjadikan Khitthah 1926 sebagai pedoman hidup organisasi, bukan sekadar tulisan yang dipajang di atas kertas.

Maka, yang seharusnya dibicarakan dalam Muktamar bukan hanya siapa yang akan duduk di kursi.

Tapi apa yang akan ia perjuangkan dari kursi itu.

Bukan hanya siapa yang menang, tapi apakah umat yang akan menang.

Bukan hanya bagaimana NU mengurus dirinya sendiri, tapi bagaimana NU kembali mengurus kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Jangan pertaruhkan NU untuk kepentingan sesaat. NU terlalu besar. NU adalah warisan para ulama. NU adalah milik umat. Dan kepemimpinan adalah amanah.”

Panggilan Kiai Wahab hari ini bukan hanya untuk para peserta Muktamar. Panggilan itu ditujukan kepada seluruh Nahdliyin di mana pun berada, untuk berhenti sejenak dan mengingat kembali: untuk apa sebenarnya NU ini didirikan.

NU TIDAK PERLU KEMBALI KE MASA LALU. NU PERLU MEMBAWA RUH PARA PENDIRI KE MASA DEPAN.

Kembali kepada Khitthah.

Kembali kepada khidmat.

Kembali kepada Haq dan Adl.

 

Tancep Kayon.